Oleh: Widiana Safaat
(Pengamat Infrastruktur & Lingkungan, Ketua Yayasan Gerakan Cimanuk Waluya, Anggota TKPSDA WS. Cimanuk-Cisanggarung, Ketua HKTI Kabupaten Garut )
Jabartandang.com,” – Banjir bukan lagi peristiwa alam semata di Kabupaten Garut. Ia telah menjelma menjadi fenomena sosial-ekologis yang terus menggerus ketahanan daerah dan kesejahteraan masyarakat. Dari banjir bandang Cimanuk 2016 yang merenggut puluhan nyawa hingga rangkaian banjir tahunan yang terus terjadi di Garut selatan, kita tengah menghadapi pola bencana berulang yang menunjukkan satu hal: *ada sistem yang gagal.*
Garut adalah kabupaten dengan wajah geografis nan indah, namun rentan: terletak dalam cekungan yang dikepung gunung, dengan sungai-sungai berliku dan DAS yang kian rusak. Dalam dua dekade terakhir, laju deforestasi di hulu, alih fungsi lahan secara masif, serta ekspansi permukiman di sempadan sungai, telah mengubah lanskap alam menjadi bom waktu hidrologis. Ketika hujan ekstrem turun – yang makin sering akibat perubahan iklim – banjir bandang pun mengancam, tak hanya wilayah kota, tapi juga desa-desa pelosok.
Yang menyedihkan, tiap tahun kita berulang dalam ritus yang sama: tanggap darurat, bantuan logistik, dan pembahasan pembangunan tanggul. Tapi nyaris tidak ada transformasi sistemik. Padahal, solusi banjir bukan hanya urusan teknis. Ini tentang bagaimana kita menata ulang hubungan antara manusia, alam, dan pembangunan. Saatnya Garut mengambil jalan baru: berpikir sistemik, bertindak strategik.
Pertama, kita harus mengakui bahwa banjir adalah gejala dari penyakit kronis: kerusakan lingkungan dan kegagalan tata ruang. Hulu DAS Cimanuk sudah lama rusak. Hutan menghilang, diganti ladang sayur di lereng curam. Petani terpaksa membuka lahan karena kemiskinan dan keterbatasan pilihan. Maka solusinya bukan sekadar menanam pohon, tapi memperbaiki sistem ekonomi hulu. Berikan insentif bagi petani yang menjaga hutan. Perluas skema perhutanan sosial dan bayar jasa lingkungan.
Kedua, Garut butuh infrastruktur pengendali banjir yang kuat, tetapi juga cerdas. Bukan hanya betonisasi, tapi juga solusi berbasis alam: embung, sabo dam, dan ruang retensi banjir. Investasi ini tidak boleh setengah hati. APBD Garut tidak cukup? Pemerintah pusat dan provinsi harus turun tangan serius. Mitra swasta pun bisa dilibatkan dalam skema kerja sama konservasi berbasis insentif.
Ketiga, penataan ruang harus tegas. Sudah saatnya kita berkata “cukup” pada pembangunan di sempadan sungai dan zona rawan. Relokasi bukan perkara mudah, tapi harus dilakukan dengan adil dan manusiawi. Libatkan warga dalam merancang hunian baru yang aman dan layak. Jangan lagi korban banjir dibiarkan membangun di tempat yang sama.
Keempat, aspek kesiapsiagaan mesti ditingkatkan. Sistem peringatan dini harus menjangkau semua desa rawan, tidak hanya kota. Pendidikan kebencanaan perlu dimasukkan ke sekolah. Dan yang tak kalah penting: bangun kelembagaan desa tangguh bencana, karena komunitaslah yang pertama menyelamatkan diri saat bencana datang.
Kelima, banjir adalah soal keadilan. Masyarakat miskin selalu jadi korban paling parah. Karena itu, semua program mitigasi harus sekaligus menjadi jalan keluar dari kemiskinan dan ketimpangan. Pemberdayaan ekonomi hijau, pelatihan kerja, dan pengembangan UMKM lokal berbasis agroforestry bisa menjadi solusi ganda: menjaga hutan dan mengentaskan kemiskinan.
Jika semua itu disatukan dalam peta jalan sistemik lima tahun ke depan, dengan indikator keberhasilan yang jelas, saya yakin Garut bisa berubah. Kita bisa menurunkan frekuensi dan dampak banjir. Kita bisa mengubah ancaman menjadi peluang – dari bencana menjadi momentum transformasi.
Dunia telah bergerak menuju pembangunan yang adil dan lestari. Garut pun bisa. Banjir tidak bisa dicegah total, tapi kerusakannya bisa diminimalkan. Dengan keberanian politik, konsistensi anggaran, dan partisipasi rakyat, kita bisa memutus siklus bencana dan membangun masa depan Garut yang tangguh, hijau, dan manusiawi.
Mari akhiri budaya reaktif. Saatnya bergerak dengan visi, strategi, dan sistem. Demi Garut yang lebih aman – untuk kita, anak cucu, dan bumi yang kita tinggali bersama.
(Sopandi)








