Ketika Para Miliarder Dunia Turun ke Sawah: Sinyal Keras Untuk Kita Semua

oleh -56 views

Jabartandang.com,” -:Bayangkan ini: Bill Gates, Jeff Bezos, Mark Zuckerberg, dan Jack Ma—empat nama yang identik dengan kecanggihan teknologi dan kejayaan digital—kini sibuk membeli lahan pertanian dalam jumlah fantastis. Gates bahkan telah menjadi pemilik lahan pertanian terbesar di Amerika Serikat. Sementara Bezos menguasai lebih dari 420 ribu hektare tanah. Pertanyaannya, mengapa mereka, yang hidup di puncak revolusi teknologi, memilih kembali ke tanah?
Jawabannya tak sederhana. Mereka bukan sekadar “bercocok tanam.” Mereka sedang mengamankan masa depan.

Menangkap Sinyal Krisis
Para miliarder ini memiliki akses ke informasi terbaik di dunia. Dan langkah mereka menunjukkan satu hal: krisis global sedang mengintai, terutama dalam hal pangan. Di saat perang dan pandemi mengguncang dunia, lahan pertanian justru menjadi “safe haven” yang stabil dan terus bernilai. Indeks Lahan Pertanian di AS menunjukkan imbal hasil rata-rata lebih dari 10 persen per tahun sejak 1992—lebih stabil dibandingkan saham!
Lebih dari itu, mereka paham betul betapa rapuhnya rantai pasok global. Krisis pupuk di satu negara bisa membuat harga gandum melambung di negara lain. Maka, memiliki lahan dan memproduksi pangan sendiri adalah bentuk pertahanan. Ini bukan investasi biasa. Ini adalah strategi bertahan hidup.

Lumbung Keluarga, Bukan Sekadar Kebun
Bagi kita di Indonesia, ini adalah panggilan untuk bertindak. Kita tak bisa hanya menonton para taipan membangun lumbung pangan pribadi mereka. Ini saatnya membangun lumbung pangan keluarga. Tak perlu hektaran sawah, cukup dinding balkon, halaman rumah, atau sudut dapur. Pertanian vertikal bisa jadi solusi. Tanam kangkung, selada, cabai atau bayam—bukan sekadar untuk konsumsi, tapi juga sebagai pendidikan dan ketahanan keluarga.
Langkah kecil ini, bila dilakukan berjamaah, bisa menjadi pondasi besar bagi kedaulatan pangan bangsa.

Pemerintah, Saatnya Bergerak Radikal
Kita tak butuh lagi retorika tentang “ketahanan pangan.” Yang kita butuhkan adalah kedaulatan pangan. Artinya, bangsa ini bisa memberi makan rakyatnya tanpa bergantung pada negara lain. Itu berarti: hentikan alih fungsi lahan pertanian, beri ruang dan insentif besar bagi petani muda, bangun infrastruktur pascapanen yang mumpuni, dan lindungi harga jual petani.
Sinyal dari Gates dan Bezos itu nyata: siapa yang menguasai pangan, menguasai masa depan.

Pengusaha, Jadilah Motor Inovasi
Para pelaku usaha tak bisa hanya berpikir soal cuan jangka pendek. Kini saatnya menggabungkan inovasi teknologi dengan kesejahteraan petani. Model pertanian terpadu dengan sistem tertutup (closed-loop), tanpa limbah, yang memadukan pertanian, perikanan, dan peternakan bisa menjadi solusi masa depan—efisien, ramah lingkungan, dan menguntungkan.

Lebih dari itu, model koperasi multipihak seperti yang digagas Presiden Prabowo dalam “Koperasi Desa Merah Putih” bisa menjadi jembatan kolaborasi antara petani, pemerintah, dan pengusaha. Ini bukan sekadar bisnis, ini misi bangsa.
Mulai dari Kita

Jika para miliarder sedang membangun ladang, kita bisa memulai dari pot bunga. Jika mereka menyiapkan dunia untuk krisis, kita bisa menyiapkan keluarga untuk masa depan. Tak perlu jadi Gates untuk sadar bahwa makanan adalah sumber kehidupan. Tak perlu jadi Bezos untuk tahu bahwa tanah adalah emas masa depan.
Mulailah dari dapur rumah. Lanjutkan ke komunitas. Dorong kebijakan. Bangun ekosistem.
Karena di masa depan, negara yang berjaya bukanlah negara paling kaya—tapi yang mampu memberi makan rakyatnya sendiri.

📌 Disclaimer: Konten ini adalah rangkuman dan refleksi dari artikel asli ANTARA News berjudul “Ketika Gates dan Bezos jadi Petani” yang ditulis oleh Baratadewa Sakti P. Seluruh hak cipta tetap milik ANTARA.(Redaksi)