Membangun Konglomerasi Sunda: Meneladani Syahbandar Sunda Kelapa dan Membangkitkan Kejayaan Saudagar Sunda di Nusantara

oleh -19 views

*Oleh: David Darmawan*

Prolog: Jejak Saudagar Sunda dalam Lintasan Sejarah

Jabartandang.com,” – Di tengah gemuruh perdagangan rempah Nusantara abad ke-16, seorang Syahbandar Sunda Kelapa bernama Wa item berdiri sebagai tokoh kunci yang menghubungkan Kerajaan Sunda (Pajajaran), Portugis, dan jaringan niaga global. Ia bukan sekadar pengawas pelabuhan, melainkan avalis—penjamin transaksi—yang menjembatani kepentingan ekonomi dan politik. Kisahnya membuktikan bahwa orang Sunda bukanlah masyarakat yang terisolasi secara geografis atau mental, melainkan pelaku aktif dalam percaturan ekonomi dunia.

Lantas, mengapa narasi “orang Sunda enggan berdagang masih kerap terdengar? Fakta sejarah justru menunjukkan sebaliknya: Sunda memiliki tradisi niaga yang kuat tetapi kurang terdokumentasi karena dominasi wacana kolonial dan minimnya literasi ekonomi lokal.

Fakta & Statistik: Potensi Ekonomi Sunda yang Terabaikan

1. Kontribusi Ekonomi Jawa Barat
– Menurut BPS (2023), Jawa Barat menyumbang 11,84% PDB Nasional terbesar kedua setelah DKI Jakarta. Sektor UMKM mendominasi (98% pelaku usaha), namun hanya sedikit yang berkembang menjadi konglomerasi.
– Fakta Ironis.Meski kaya sumber daya (pertanian, tekstil, logistik), hanya  3 dari 50 konglomerat terbesar Indonesia yang berasal dari etnis Sunda (data Forbes 2023).

2. Tokoh Sunda di Panggung Nasional
– K.H. Noer Alie (ulama-pengusaha), Tahir (CT Corp) dan **Eddy Kusnadi Sariaatmadja (Emtek) membuktikan bahwa orang Sunda mampu bersaing di tingkat nasional.
– Pakar Ekonomi Sunda.Mohammad Sadli.Rhenald Kasali dan Sri Mulyani Indrawati (meski lahir di Bandung, darah Minang kuat) menunjukkan keunggulan intelektual Sunda dalam ekonomi.

3. Warisan Niaga Sunda
-Sunda Kelapa adalah pusat perdagangan internasional sebelum dihancurkan Demak-Cirebon (1527).
Pelabuhan Cirebon dan Banten  menjadi bukti bahwa orang Sunda (termasuk Cirebon yang kultural Sunda) adalah pelaku niaga tangguh.

Mengapa Konglomerasi Sunda Tertinggal?

Bukan karena faktor geografis atau budaya, melainkan:
1. Kurangnya Sistem Pedagang Sunda cenderung individualis, tidak membentuk *trust* (gabungan usaha) seperti konglomerasi Tionghoa atau Jawa.
2. Minimnya Literasi Finansial Banyak pengusaha Sunda terjebak di sektor tradisional tanpa naik kelas ke industri hilir.
3. Politik Identitas Etnisitas kerap dibenturkan dengan ekonomi, padahal sejarah membuktikan  Siliwangi pun bermitra dengan Portugis untuk kemakmuran kerajaan.

Solusi: Membangun Trist Sunda (Persatuan Saudagar Sunda

1. Membangun Lembaga Avalis Modern
– Mencontoh Syahnandar, dibutuhkan lembaga penjamin modal dan riset pasar untuk UMKM Sunda.
2. Konglomerasi Berbasis Kekhasan Lokal
– Gabungkan sektor pertanian, tekstil, dan digital dalam satu holding company (contoh: Bumi Sunda Holdings).
3. Pendidikan Kewirausahaan Berbasis Budaya
-Ngamumulé (memuliakan) bukan sekadar filosofi, tapi strategi bisnis: produk Sunda harus bernilai premium.
4. Kolaborasi, Bukan Kompetisi
– Orang Sunda harus bersatu seperti Laskar Suku Betawi di mana solidaritas mengalahkan ego sektoral.

Epilog: Sunda Bisa Menjadi Raja Niaga Kembali

Sejarah telah membuktikan: orang Sunda bukan penghalang bagi kemajuan ekonomi, justru potensi raksasa yang tertidur Dengan persatuan, sistem, dan semangat *someah hade ka semah* (ramah kepada tamu/sejawat), konglomerasi Sunda bukanlah mimpi.

Kita bukan hanya pewaris tahta Siliwangi, tapi juga warisan niaga Syahnandar. Saatnya saudagar Sunda bangkit!

*—David Darmawan, Rais Laskar Suku Betawi, (Pandi)