Jabartandang.com,” – Harga Pi Network (PI) masih bergerak di kisaran rendah sekitar $0,25 (Rp4.135) di berbagai pasar perdagangan tidak resmi, jauh dari ekspektasi sebagian komunitas. Meski proyek ini memiliki basis pengguna yang besar, sejumlah faktor struktural dan teknis membuat harga PI berpotensi stagnan lebih lama dari yang diperkirakan. Artikel ini mengulas lima risiko utama yang memengaruhi perkembangan harga PI berdasarkan data dan tren terbaru dalam industri crypto.
Tidak adanya tanggal resmi peluncuran Open Mainnetmenjadi faktor terbesar stagnasi harga PI. Hingga akhir 2025, tim Pi Network belum memberikan jadwal pasti, meskipun pengumuman awal menyebutkan fase jaringan tertutup berlangsung sejak Maret 2022. Penundaan ini membuat utilitas PI terbatas, karena token tidak dapat diperdagangkan secara resmi di bursa global yang teregulasi.
Kondisi tersebut menyebabkan pasar mengandalkan nilai PI di pasar barter atau pseudo-exchange yang tidak mencerminkan harga riil. Akibatnya, PI kehilangan momentum adopsi dibandingkan aset baru yang dirilis dengan roadmap yang lebih jelas. Ketidakpastian timeline juga sering dikaitkan dengan penurunan minat investor baru.
Munculnya kembali klaim harga “GCV” (Global Consensus Value) seperti $314.159 (Rp5,23 miliar) menimbulkan misinformasi besar dalam komunitas. Data pencarian Google menunjukkan lonjakan minat terhadap istilah “GCV Pi” setiap kali rumor ini beredar, mengindikasikan kebingungan pengguna. Namun analis crypto telah menegaskan bahwa penetapan harga arbitrer tidak memiliki dasar ekonomi.
Sentimen negatif ini menekan reputasi proyek dan membuat investor ritel lebih berhati-hati. Komentator crypto seperti Dr Altcoin menyebut fenomena GCV sebagai “kultus harga” yang dapat menghambat adopsi jangka panjang. Ketika reputasi proyek terganggu oleh rumor internal, proses pematangan ekosistem dapat berjalan lebih lambat.
Meskipun Pi Network melaporkan lebih dari 47 juta pengguna terverifikasi, jumlah merchant yang secara aktif menerima Pi masih sangat terbatas. Map of Pi 2.0 memang mencatat ribuan merchant terdaftar, namun hanya sebagian kecil yang melakukan transaksi rutin. Kurangnya utilitas nyata membuat permintaan terhadap token PI tidak berkembang secara organik.
Dalam ekonomi crypto, nilai token sangat terkait dengan aktivitas on-chain dan utilitas dunia nyata. Sebagai pembanding, proyek seperti Solana SOL
2.82%->mencatat lebih dari 25 juta transaksi harian, sedangkan Pi Network tidak memiliki data transaksi publik karena masih berada di enclosed network. Minimnya utilitas menyebabkan harga PI sulit bergerak naik secara fundamental.
Belum adanya listing resmi PI di bursa teregulasi membuat proyek ini berada dalam area abu-abu regulasi. Di Eropa, aturan MiCA mengharuskan token publik melewati audit dan disclosure, namun PI belum dapat memenuhinya karena belum open mainnet. Kondisi serupa terjadi di pasar Asia, termasuk Indonesia, yang mensyaratkan verifikasi dan persetujuan sebelum sebuah cryptocurrency bisa diperdagangkan secara sah.
Ketiadaan regulasi membuat investor institusional tidak dapat masuk ke PI. Data dari CoinShares menunjukkan bahwa investasi institusional memberikan lebih dari $2,2 miliar arus masuk ke crypto pada 2025, namun proyek seperti PI tidak bisa ikut menikmati arus modal tersebut.
Ruang cryptocurrency tumbuh cepat, dengan ratusan proyek baru bermunculan setiap tahun. Pada 2025 saja, CoinMarketCap mencatat lebih dari 10.000 token aktif, dan beberapa di antaranya menawarkan model inovasi lebih jelas, seperti AI-based crypto, DeSci, dan modularblockchain. Persaingan ini membuat Pi Network harus berkompetisi dalam menarik pengembang, investor, dan komunitas.
Selain itu, proyek Layer-1 baru seperti Monad, Berachain, dan Aptos menawarkan throughput tinggi dan ekosistem yang berkembang cepat. Di tengah persaingan tersebut, Pi Network perlu bergerak lebih strategis agar tidak tertinggal secara adopsi dan inovasi.
Kesimpulan
Pi Network menghadapi sejumlah risiko yang dapat membuat harga PI stagnan lebih lama dari yang diperkirakan. Mulai dari keterlambatan open mainnet, rumor internal, rendahnya utilitas, risiko regulasi, hingga persaingan ketat di industri crypto. Untuk keluar dari stagnasi ini, Pi Network memerlukan roadmap yang lebih tegas, peningkatan utilitas nyata, dan dukungan ekosistem yang terstruktur.
Faktor utamanya adalah belum adanya Open Mainnet yang membuat PI tidak bisa diperdagangkan secara resmi dan utilitasnya terbatas.
Mengapa rumor GCV dianggap berbahaya bagi Pi Network?
Karena klaim harga tidak realistis dapat merusak reputasi proyek dan menimbulkan ekspektasi salah di komunitas.
Apakah Pi Network sudah memenuhi aturan regulasi internasional?
Belum, karena token PI belum listing di bursa teregulasi dan masih berada pada fase enclosed network.
Berapa harga PI yang digunakan pasar saat ini?
Nilai PI di pasar tidak resmi berkisar $0,25 (Rp4.135), bukan ratusan ribu dolar seperti klaim GCV.
Apa yang bisa meningkatkan harga PI di masa depan?
Kepastian Open Mainnet, utilitas nyata, pertumbuhan merchant, dan pengembangan ekosistem dapat menjadi katalis positif. (Redaksi)








