Jabartandang.com,” Cirebon., – Keraton Kacirebonan kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga warisan budaya dan nilai keislaman melalui pelaksanaan hajat tradisi Rajaban yang dirangkaikan dengan peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW, Jumat malam, 16 Januari 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Bangsal Prabayaksa Keraton Kacirebonan tersebut diikuti oleh keluarga keraton, abdi dalem, tokoh agama, serta masyarakat. Rangkaian acara diawali dengan salat Magrib dan Isya berjamaah, dilanjutkan dengan macaan Kitab Rajab serta doa-doa khusus bulan Rajab.
Perwakilan keluarga Kesultanan Cirebon, Elang Bugon Darmakusuma, menjelaskan bahwa tradisi Rajaban merupakan bagian penting dari warisan leluhur yang terus dijaga lintas generasi. Menurutnya, Rajaban bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bentuk ikhtiar keraton dalam merawat nilai spiritual, sejarah, dan jati diri Cirebon.
“Tradisi Rajaban ini adalah amanah leluhur.
Dimana kegiatan ini dilakukan secara turun temurun, isi kitab rajab adalah kisah rosul dalam perjalanan Isro Mi’roj dan wahyu-wahyu yang turun utuk diterapkan pada masyarakat luas tambah elang Bugon.
Di dalamnya terkandung nilai keislaman, tata krama, serta kearifan budaya yang sejak dahulu dijaga oleh para pendahulu keraton,” ujar ujarnya lagi
.
Pelaksanaan Rajaban mengacu pada penanggalan Aboge, yakni Dinten Jumat, Dalu Septu Kliwon, 27 Rajab Tahun Dal, yang bertepatan dengan tahun 1947 Saka atau 1447 Hijriah. Sistem penanggalan ini hingga kini masih dijaga secara konsisten di lingkungan Keraton Kacirebonan sebagai bagian dari tradisi budaya.
Sementara itu, Pangeran Muhammad Hilman, yang memimpin pembacaan Kitab Rajab,
menuturkan bahwa kitab tersebut merupakan warisan langsung dari Sinuwun Gunung Jati, Syech Syarif Hidayatullah. Kitab Rajab memuat tuntunan doa, sejarah, serta pesan moral yang menjadi pengingat akan pentingnya salat dan keteladanan Rasulullah SAW.
“Kitab Rajab ini bukan hanya dibaca, tetapi dimaknai. Ini adalah warisan langsung dari Sunan Gunung Jati yang mengajarkan keseimbangan antara ibadah, adab, dan kehidupan bermasyarakat,” ungkap Pangeran Muhammad Hilman.
Prosesi macaan Kitab Rajab berlangsung khidmat dan penuh kekhusyukan. Selain memperingati peristiwa Isra Mi’raj, tradisi ini juga menjadi sarana refleksi spiritual bagi seluruh peserta yang hadir.
Keraton Kacirebonan menegaskan bahwa Rajaban memiliki makna lebih dari sekadar ritual tahunan. Tradisi ini menjadi simbol kesinambungan sejarah, identitas budaya, serta penguat harmoni antara ajaran agama dan adat istiadat masyarakat Cirebon.
Melalui peringatan Isra Mi’raj dalam tradisi Rajaban, Keraton Kacirebonan berharap nilai-nilai religius, kebersamaan, dan kearifan lokal dapat terus diwariskan kepada generasi muda, sekaligus memperkuat peran keraton sebagai pusat budaya dan spiritual di Cirebon.
(Hans)








