“Nabawadatala dan Terapi Raksa Jasad: Ajaran Kabuyutan Sumedang tentang Keseimbangan Hidup”

oleh -30 views

Jabartandang.com,” Sumedang., – Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap pengobatan dan laku hidup berbasis kearifan lokal, ajaran Nabawadatala dari Kabuyutan Sumedang kembali mendapat perhatian. Ajaran ini dikenal luas melalui praktik Terapi Raksa Jasad, yang dikembangkan dan dikenalkan kepada publik oleh Buya Gus Mus.

Nabawadatala merupakan ajaran hidup yang berakar dari tradisi Sunda lama. Ia tidak hanya dipahami sebagai nama kabuyutan atau sistem pengobatan, tetapi sebagai rangkaian nilai yang mengajarkan bagaimana manusia menata hidup, menjaga keseimbangan jasad dan batin, serta menegakkan martabat dirinya di hadapan Tuhan dan sesama.

Secara filosofis, Nabawadatala tersusun dari makna simbolik bahasa Sunda kuno.
Na berasal dari *NA*= najeurkeun, yang berarti menegakkan atau mendirikan menggambarkan manusia yang berdiri tegak dalam kesadaran hidup.
*Ba* dari Batara, bermakna ilmu yang bersumber dari Ketuhanan atau Sang Pencipta, sebagai dasar utama laku hidup.
*Wa* berasal dari Wangsit, yaitu petunjuk hidup atau kejernihan batin yang menuntun manusia dalam bersikap dan mengambil keputusan.
*Da* dari Danghyang, dimaknai sebagai kemunculan kembali wibawa besar dan martabat manusia; untuk apa wangsit itu jika bukan untuk menghadirkan kembali keagungan hidup.
*TA* dari Tangkal Satria, berarti tanda atau ciri, yakni kesetiaan terhadap ilmu yg mendarah daging dan beretitut
Sementara *La* berasal dari Laraka Pegat, yang dimaknai sebagai terputusnya rantai kesusahan bukan hidup tanpa ujian, melainkan tidak terjerat dalam penderitaan berkepanjangan.

Dengan demikian, Nabawadatala dipahami sebagai ajaran tentang menegakkan kehidupan berdasarkan ilmu dari Sang Pencipta, dijalani dengan petunjuk batin, untuk mengembalikan wibawa manusia, yang tercermin dalam tanda-tanda hidup yang baik, sehingga manusia tidak terperangkap dalam kesulitan lahir maupun batin.

*Terapi Raksa Jasad sebagai Aplikasi Ajaran*

Ajaran Nabawadatala kemudian diaplikasikan dalam bentuk Terapi Raksa Jasad, sebuah praktik tradisional yang memadukan perawatan tubuh, penataan keseimbangan raga, serta pendekatan batin. Terapi ini tidak hanya diarahkan untuk merespons keluhan fisik, tetapi juga menjaga ketahanan dan keharmonisan tubuh secara menyeluruh.
Dalam praktiknya, Raksa Jasad memanfaatkan teknik tradisional seperti sentuhan terapi, pengaturan peredaran tubuh, pemanfaatan herbal, serta penyelarasan batin sebagai satu kesatuan. Pendekatan ini berangkat dari keyakinan bahwa kesehatan tubuh tidak dapat dipisahkan dari kondisi batin dan cara seseorang menjalani hidup.

*Jaringan Luas hingga Mancanegara*

Seiring perkembangannya, ajaran dan praktik Terapi Raksa Jasad mengalami perluasan yang signifikan. Berdasarkan data internal komunitas, jumlah anggota dan pengamal ajaran Nabawadatala disebut telah mencapai lebih dari 12 juta orang. Jaringan praktiknya tersebar di berbagai daerah di Indonesia, bahkan telah menjangkau masyarakat dari luar negeri, baik untuk kepentingan terapi maupun pembelajaran nilai-nilai ajaran yang dikandungnya.
Perluasan ini menunjukkan bahwa Nabawadatala tidak lagi dipahami semata sebagai ajaran lokal, melainkan telah berkembang menjadi fenomena sosial-budaya yang lintas wilayah.

*Warisan Budaya yang Terus Dihidupkan*

Sejumlah upaya pelestarian terus dilakukan agar Nabawadatala dan Terapi Raksa Jasad tidak berhenti sebagai praktik personal, tetapi tetap hidup sebagai bagian dari warisan budaya. Dalam konteks ini, ajaran Nabawadatala diposisikan sebagai kearifan lokal yang dapat berjalan berdampingan dengan pendekatan medis modern, tanpa saling meniadakan.
Di tengah arus modernisasi, Nabawadatala hadir sebagai pengingat bahwa kesehatan dan kesejahteraan tidak hanya berkaitan dengan tubuh fisik, tetapi juga tentang bagaimana manusia menegakkan nilai hidup, menjaga martabat diri, dan merawat keseimbangan antara raga dan batin.

(Hans)

Tentang Penulis: jabar-tandang

Gambar Gravatar
Media Supremasi Hukum, Politik dan Kriminal