Wali Kota Bandung, Jabartandang.com,” – Muhammad Farhan, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam tata kelola pemerintahan Kota Bandung.
Hal tersebut disampaikannya saat memberikan sambutan pada Pelantikan Pengurus Asosiasi Manajemen Indonesia (AMA) Badan Pengurus Cabang Bandung, di Ruang Srimanganti Hotel Santika, Jalan Sumatra, Rabu, 4 Februari 2026.
Dalam sambutannya, Farhan menyebut AMA telah menjadi mitranya selama lebih dari satu dekade.
Selama memimpin, Farhan mengaku banyak belajar dan mempraktikkan berbagai prinsip manajemen, terutama dalam menghadapi kompleksitas persoalan perkotaan.

“Salah satu konsep yang sering dibicarakan adalah triple helix. Secara teori mudah, tetapi ketika diterjemahkan ke dalam praktik pemerintahan sehari-hari, ternyata tidak sesederhana itu,” ujar Farhan.
Farhan kemudian memperkenalkan pendekatan khas Bandung yang ia sebut sebagai “Segitiga Persib”.
Konsep ini diadaptasi dari pola permainan sepak bola Persib Bandung yang mengandalkan kerja sama antarpemain dalam membangun serangan hingga tercipta gol.
“Dalam sepak bola ada pola segitiga. Dari pemain belakang, ke gelandang, lalu ke penyerang hingga menjadi gol. Analogi ini saya terapkan dalam pemerintahan,” jelasnya.
Menurut Farhan, setiap persoalan di Kota Bandung tidak boleh ditangani oleh satu perangkat daerah saja.
Minimal harus melibatkan tiga dinas, dengan satu dinas berperan sebagai pengampu utama atau “striker”, sementara dinas lainnya menjadi pendukung.
“Kalau masalahnya melibatkan dua dinas, maka strikernya bisa dua. Intinya, tidak boleh ada masalah yang diurus sendirian dan terjebak ego sektoral,” tegasnya.
Farhan mencontohkan penerapan kolaborasi lintas sektor tersebut dalam penanganan persoalan persampahan, yang kembali menjadi tantangan serius bagi Kota Bandung.
Menurutnya, pengelolaan sampah tidak hanya soal teknis dan teknologi, tetapi juga soal perencanaan anggaran, efektivitas belanja, serta partisipasi masyarakat.

“Perencanaan anggaran bukan hanya urusan Dinas Lingkungan Hidup, tapi juga Bappeda. Semua harus terukur dan akuntabel,” katanya.
Pendekatan serupa juga diterapkan saat Persib Bandung menorehkan sejarah sebagai juara bertahan Liga 1.
Farhan mengungkapkan, rangkaian pawai kemenangan yang berlangsung enam kali dalam kurun 9–20 Mei melibatkan banyak perangkat daerah, bahkan Dinas Lingkungan Hidup ditunjuk sebagai penanggung jawab utama.
“Ini bukan hanya urusan Dispora. Ketika euforia terjadi, pemerintah kota harus hadir mengelola risiko, termasuk kebersihan dan keselamatan warga,” ujarnya.
Ia menjabarkan, prinsip kepemimpinannya yang dirangkum dalam PPP: Pantas, Patut, dan Patuh.
Menurutnya, pembiasaan kepemimpinan berbasis tata kelola membutuhkan waktu dan konsistensi.
“Saya punya waktu kurang dari dua tahun untuk memastikan governance ini berjalan dengan baik,” ujarnya.
Farhan berharap AMA Bandung dapat berperan aktif sebagai mitra strategis Pemerintah Kota Bandung, khususnya dalam pengelolaan sumber daya manusia, pengembangan organisasi, hingga manajemen keuangan dan pengambilan keputusan berbasis kebutuhan.
“Kota Bandung memiliki tingkat keberagaman yang tinggi. Program-program kami tidak diseragamkan, tetapi justru mengelola keberagaman itu sebagai kekuatan,” ungkapnya.(Iwan)**









