Prabu Siliwangi, Maharaja Sunda yang melegenda di Nusantara

oleh -0 views

Ditulis oleh keturunannya :
*Ratu Raja Okki Jusuf Judanagara*

Jabartandang.com,” – Prabu Siliwangi III atau yg kita kenal sebagai Sri Baduga Maharaja adalah seorang Raja Sunda Padjajaran legendaris yg bertahta pada tahun 1482 – 1521 M. Pada masa pemerintahannya Padjajaran mencapai masa keemasan, kemakmuran dan kesejahteraan. Prabu Siliwangi dikenal sebagai Raja yg adil, bijaksana, sakti dan mengayomi rakyatnya dengan ajaran Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuhnya. Ia berasal dari Kerajaan Galuh lalu kemudian ia mempersatukan Kerajaan Sunda dan Galuh yg dulunya adalah Kerajaan *Tarumanagara yg dibagi 2 kepada Tarusbawa dan Wretikandayun* leluhurnya pada tahun 669 M.

Dilahirkan pada tahun 1401 di Kawali dari ayah Raja Galuh Prabu Dewa Nisakala dan ibu Ratu Dewi Mayangsari. Nama aslinya adalah Raden Pamanah Rasa dan Jayadewata ketika menjadi Raja Muda.
Ia memerintah Kerajaan Padjajaran selama 39 tahun 1482 – 1521 M. Ia naik tahta setelah menerima mandat dari ayahnya Prabu Dewa Niskala, Raja Galuh ke XXXI 1357 – 1371 yg menggantikan Mahaprabu Niskala Wastukancana. Setelah menjadi Raja Galuh ia menikahi Kentring Manik Mayang Sunda putri Raja Sunda Susuk Tunggal, lalu kemudian setelah ia menjadi Raja Sunda *ia menyatukan Kerajaan Galuh dan Sunda menjadi Kerajaan Padjajaran dgn Ibukota di Pakuan*.

Pada abad ke-17, lebih dari seratus tahun setelah runtuhnya Kerajaan Sunda, kota Pakuan Pajajaran telah ditinggalkan penghuninya. Perlahan-lahan kota ini telantar, lapuk, dan rusak ditelan semak belukar dan aneka tanaman tropis, sehingga berubah menjadi hutan lebat yang menjadi sarang harimau. Ekspedisi perdana oleh orang Belanda ke pedalaman Jawa Barat dilakukan pada 1687 yang dipimpin Pieter Scipio van Oostende. Dia membawa tim ekspedisi untuk menjelajahi hutan di selatan Batavia menuju bekas ibu kota Pakuan dan akhirnya mencapai Wijnkoopsbaai (kini Palabuhanratu). Salah satu anggota ekspedisi ini tewas diterkam harimau di daerah ini dua hari sebelumnya. Scipio mendapat keterangan dari anak buah Letnan Tanuwijaya dari Sumedang, bahwa reruntuhan itu adalah bekas ibu kota kerajaan Pakuan Pajajaran.

Kerajaan Padjajaran yg sejahtera selain membangun *kompleks istana Sri Bima, Punta, Narayana, Madura, Suradipati* ( 5 keraton yg berjajar ) juga dibangun parit pertahanan, *Telaga Rena Mahawijaya*, hutan kota *Leweung Samida*/ Kebun Raya Bogor skrg, *Petirtaan Sumur Tujuh*, pemandian *Keputren Tamansari* dan tempat *Srada Bukit Badigul di Rancamaya* yg seharusnya dilestarikan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Prabu Siliwangi menikahi 11 Ratu Tatar Sunda dan memiliki 140 selir sehingga menurunkan ribuan keturunannya di Tatar Sunda. 3 istrinya yg paling terkenal adalah Nyimas Ratu Ambet Kasih yg menurunkan Banyak Catra, Banyak Ngampar dan Ratu Pamekas. Nyimas Ratu Subang Larang yg menurunkan Pangeran Cakrabuana, Rara Santang dan Rakean Santang. Dan Nyimas Ratu Kentring Manik Mayang Sunda yg menurunkan Prabu Surawisesa, Surosowan dan Dewi Surawati. Putranya yg paling terkenal karena menantang duel ayahnya adalah Rakean Santang putra dari Nyimas Ratu Subang Larang.

Prabu Siliwangi dalam mitos sering dikaitkan memiliki hewan peliharaan harimau putih bernama Ki Waja sebagai simbol kekuatan dan kesaktiannya, juga bersenjatakan pedang dan kujang. Ia digambarkan sebagai seorang Maharaja sakti mandraguna dgn keahlian mantra mantranya dalam tradisi lisan Sunda.

Menurut prasasti Batutulis Bogor, ia wafat secara moksa di leweung Gunung Salak, Buitenzorg pada akhir Desember 1521 dan jasadnya dimakamkan di Bukit Badigul Rancamaya. Ia wafat pada usia 120 tahun. Kemudian putranya Prabu Surawisesa menggantikannya sebagai Raja Padjajaran berikutnya.

(Pandi)