Bandung – Jabartandang.com,” – Dana Prakarsa (Program Akselerasi Kewilayahan Bandung Utama) merupakan instrumen pembangunan yang dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat secara komprehensif. Karena itu, anggapan bahwa dana tersebut hanya dapat digunakan untuk pembangunan infrastruktur dinilai kurang tepat.
Akademisi kebijakan publik menilai bahwa desain Program Bandung Utama justru memberikan ruang yang luas bagi kegiatan pemberdayaan masyarakat selain pembangunan fisik. Program ini memiliki dua pilar utama, yakni pembangunan sarana dan prasarana serta pemberdayaan masyarakat.
“Pembangunan daerah pada era modern tidak lagi hanya berorientasi pada pembangunan fisik. Peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan ekonomi warga, kesehatan, pendidikan, dan ketahanan sosial merupakan bagian yang sama pentingnya dalam menciptakan kesejahteraan masyarakat,” ujar seorang akademisi kebijakan publik.
Pada pilar pertama, Dana Prakarsa dapat digunakan untuk pembangunan dan revitalisasi sarana prasarana, seperti perbaikan lingkungan permukiman, jalan lingkungan, drainase, maupun fasilitas umum lainnya.
Sementara pada pilar kedua, dana tersebut dapat dialokasikan untuk berbagai program pemberdayaan masyarakat, meliputi bidang kesehatan, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, pelestarian lingkungan, peningkatan keamanan lingkungan, hingga penguatan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Menurut kalangan akademisi, mekanisme pengusulan Dana Prakarsa juga telah dirancang secara partisipatif melalui proses rembug warga. Artinya, program yang diusulkan berasal dari kebutuhan nyata masyarakat, kemudian diverifikasi berdasarkan data sehingga penggunaan anggaran menjadi lebih tepat sasaran, transparan, dan akuntabel.
“Esensi Dana Prakarsa adalah memberikan solusi terhadap persoalan yang benar-benar dirasakan masyarakat. Jika persoalan utama di suatu wilayah adalah kemiskinan, stunting, pengangguran, ketahanan pangan, atau pengelolaan sampah, maka program-program tersebut justru layak menjadi prioritas pendanaan,” jelasnya.
Dalam perspektif pembangunan berkelanjutan, investasi pada pemberdayaan masyarakat dinilai memiliki dampak jangka panjang yang tidak kalah penting dibanding pembangunan fisik. Infrastruktur memang diperlukan sebagai penunjang aktivitas masyarakat, namun pembangunan manusia merupakan fondasi utama bagi terciptanya kota yang maju, inklusif, dan berdaya saing.
Oleh karena itu, akademisi mengajak seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah kewilayahan, lembaga kemasyarakatan, hingga masyarakat, untuk memahami substansi Program Bandung Utama secara utuh. Dengan pemahaman yang sama, Dana Prakarsa dapat dimanfaatkan secara optimal guna menjawab berbagai tantangan pembangunan sesuai kebutuhan riil di setiap wilayah.
Program yang disusun secara partisipatif, berbasis data, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat diyakini akan menghasilkan pembangunan yang lebih efektif, berkeadilan, dan berkelanjutan bagi Kota Bandung. Penulis : (Iwan Setiawan)








