“DIGAS Vol.1: Mengangkat Sorgum, Kuliner, Seni Budaya, dan Pariwisata Menuju Cirebon sebagai Destinasi Gastronomi Indonesia” 

oleh -4 views

Cirebon, Jabartandang.com., – Upaya mengangkat potensi pangan lokal terus dilakukan melalui berbagai kolaborasi lintas sektor. Salah satunya diwujudkan dalam kegiatan DIGAS (Diskusi Gastronomi) Vol.1 bertajuk “Mengangkat Potensi Sorgum & Kuliner Cirebon” yang akan diselenggarakan pada Minggu, 26 Juli 2026, pukul 14.00 WIB hingga selesai, bertempat di Ruang Kreasi Kabupaten Cirebon, kawasan Pasar Batik Trusmi, Kecamatan Plered. Kegiatan ini terbuka secara gratis bagi masyarakat umum.
Menghadirkan unsur pemerintah daerah, akademisi, praktisi, pegiat budaya, pelaku UMKM, chef profesional, hingga komunitas kuliner, DIGAS Vol.1 diharapkan menjadi ruang dialog yang mampu memperkuat ekosistem gastronomi daerah sekaligus memperkenalkan kembali sorgum sebagai komoditas pangan strategis masa depan.

Gastronomi, Lebih dari Sekadar Kuliner

Gastronomi merupakan ilmu sekaligus seni yang mempelajari hubungan antara makanan dengan budaya, sejarah, lingkungan, tradisi, serta kehidupan sosial masyarakat. Gastronomi tidak hanya berbicara mengenai cita rasa sebuah hidangan, tetapi juga menelusuri asal-usul bahan pangan, proses budidaya, pengolahan, nilai budaya, hingga dampaknya terhadap ekonomi masyarakat.
Melalui pendekatan gastronomi, suatu daerah dapat membangun identitas kuliner yang kuat sekaligus menciptakan nilai tambah bagi sektor pertanian, ekonomi kreatif, UMKM, serta pariwisata berbasis budaya. Dalam konteks Cirebon, pengembangan gastronomi berbasis pangan lokal menjadi langkah strategis untuk memperkenalkan kekayaan daerah kepada masyarakat luas.

Menghubungkan Kuliner, Seni Budaya, dan Pariwisata

Sebagai kota dan kabupaten yang dikenal sebagai simpul pertemuan budaya Jawa, Sunda, Tionghoa, Arab, dan Eropa, Cirebon memiliki kekayaan seni dan tradisi yang sangat beragam. Mulai dari Batik Mega Mendung, Tari Topeng Cirebon, Sintren, Gamelan Renteng, tradisi Keraton Kasepuhan, Kanoman, Kacirebonan, hingga berbagai ritual adat dan kearifan lokal yang masih lestari.

Seluruh kekayaan budaya tersebut sesungguhnya memiliki keterkaitan erat dengan perkembangan kuliner khas Cirebon. Empal gentong, nasi jamblang, docang, tahu gejrot, sega lengko, aneka hasil laut, hingga berbagai jajanan tradisional menjadi bagian dari cerita sejarah, tradisi masyarakat, dan identitas daerah yang dapat dikemas sebagai pengalaman wisata gastronomi.

Melalui DIGAS Vol.1, potensi tersebut diharapkan dapat dikolaborasikan menjadi paket pengembangan pariwisata yang mengintegrasikan pertanian, seni budaya, kuliner, dan ekonomi kreatif. Dengan demikian, wisatawan tidak hanya menikmati makanan khas, tetapi juga memperoleh pengalaman budaya yang autentik melalui pertunjukan seni, kunjungan ke sentra batik, kawasan bersejarah, hingga melihat langsung proses budidaya dan pengolahan pangan lokal seperti sorgum.

Sorgum, Pangan Lokal dengan Potensi Mendunia

Salah satu fokus utama dalam DIGAS Vol.1 adalah pengembangan sorgum (Sorghum bicolor). Tanaman serealia yang berasal dari kawasan Afrika ini telah lama dikenal sebagai sumber pangan dunia dan kini dibudidayakan di lebih dari 100 negara.
Di Indonesia sendiri, sorgum sebenarnya bukan tanaman baru. Sejak puluhan tahun lalu, sorgum telah dibudidayakan di beberapa wilayah seperti Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Sulawesi, hingga sebagian wilayah Jawa Barat. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, perhatian terhadap sorgum meningkat signifikan seiring upaya pemerintah mendorong diversifikasi pangan nasional dan memperkuat ketahanan pangan di tengah perubahan iklim.
Keunggulan sorgum terletak pada kemampuannya tumbuh di lahan kering, kebutuhan air yang relatif sedikit, serta daya tahan terhadap kondisi cuaca ekstrem. Hal ini menjadikan sorgum sebagai salah satu tanaman yang dinilai memiliki prospek besar dalam mendukung keberlanjutan sektor pertanian Indonesia.

Beragam Produk Olahan Bernilai Ekonomi

Tidak kalah dengan gandum maupun beras, sorgum dapat diolah menjadi berbagai produk pangan modern maupun tradisional, di antaranya beras sorgum, tepung sorgum, mi sorgum, roti, cookies, biskuit, brownies, cake, bubur, sereal, snack sehat, minuman fermentasi, pakan ternak, hingga bahan baku bioenergi.
Dengan inovasi pengolahan yang terus berkembang, sorgum memiliki peluang besar menjadi komoditas unggulan bagi pelaku UMKM kuliner sekaligus membuka pasar baru berbasis pangan sehat.

Kaya Nutrisi, Baik untuk Kesehatan

Selain memiliki nilai ekonomi, sorgum juga dikenal sebagai bahan pangan dengan kandungan gizi yang sangat baik. Di dalamnya terdapat karbohidrat kompleks, protein nabati, serat pangan tinggi, zat besi, magnesium, fosfor, kalium, zinc, vitamin B1, vitamin B2, vitamin B3, serta antioksidan alami berupa senyawa fenolik dan flavonoid.
Berkat kandungan tersebut, konsumsi sorgum dipercaya membantu menjaga kadar gula darah lebih stabil, mendukung kesehatan pencernaan, mengontrol kolesterol, memberikan rasa kenyang lebih lama, menjaga kesehatan jantung, meningkatkan metabolisme tubuh, serta menjadi alternatif pangan bagi sebagian orang yang membutuhkan produk bebas gluten.

Kolaborasi Menuju Kemandirian Pangan dan Destinasi Gastronomi Cirebon

Melalui DIGAS Vol.1, berbagai pemangku kepentingan diharapkan dapat membangun sinergi dalam mengembangkan sorgum mulai dari sektor budidaya, penelitian, inovasi produk, pemasaran, hingga penguatan UMKM berbasis pangan lokal.
Kegiatan ini juga akan menghadirkan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon, pakar sorgum, pelaku seni budaya, praktisi gastronomi, serta demonstrasi memasak oleh chef profesional sebagai bentuk nyata bahwa sorgum dapat diolah menjadi sajian modern tanpa meninggalkan nilai budaya lokal.
Selain menjadi ruang diskusi, kegiatan ini diharapkan mampu mendorong lahirnya ekosistem wisata gastronomi Cirebon yang menggabungkan kekuatan sektor pertanian, kuliner, seni budaya, dan pariwisata. Dengan sinergi tersebut, Cirebon berpeluang menjadi salah satu destinasi gastronomi unggulan di Indonesia yang menawarkan pengalaman wisata berbasis kearifan lokal, sekaligus memperkuat kesejahteraan petani, pelaku UMKM, seniman, dan masyarakat.

Lebih dari sekadar forum diskusi, DIGAS Vol.1 menjadi momentum untuk menumbuhkan kesadaran bahwa ketahanan pangan, pelestarian budaya, dan pengembangan pariwisata dapat berjalan beriringan. Melalui pendekatan gastronomi, sorgum tidak hanya menjadi alternatif pangan masa depan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya dan daya tarik wisata Cirebon yang mampu meningkatkan daya saing daerah di tingkat nasional maupun internasional.

(Hans)

Tentang Penulis: jabar-tandang

Gambar Gravatar
Media Supremasi Hukum, Politik dan Kriminal