Cirebon, Jabartandang.com., – Upaya melestarikan kuliner tradisional Cirebon terus dilakukan Sedulur Koki Cirebon (Sekoci) melalui Diskusi Gastronomi (Digas) Vol 2 yang digelar di Aula Kaca Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Cirebon, Sabtu (31/10/2026).
Mengusung tema “Mengangkat Kuliner Lokal Cirebon yang Hampir Punah”, kegiatan ini menjadi ruang edukasi dan apresiasi terhadap kekayaan gastronomi daerah, mulai dari cita rasa, sejarah, hingga nilai budaya yang terkandung dalam setiap sajian.

Ketua Umum Sekoci Chef Rieza, mengatakan Digas Vol 2 merupakan kelanjutan kegiatan serupa yang sebelumnya digelar di Kabupaten Cirebon. Kali ini, kegiatan dikemas lebih beragam dengan melibatkan praktisi kuliner, pelaku seni, masyarakat, hingga generasi muda.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin mengangkat potensi kuliner, budaya, dan seni Cirebon sekaligus mendorong generasi muda agar lebih mengenal dan mencintai kekayaan daerahnya sendiri,” ungkap Chef Rieza.
Salah satu kegiatan yang menarik perhatian adalah lomba kreasi Mie Koclok yang diikuti 10 grup peserta. Ajang ini menjadi ruang bagi peserta untuk mengeksplorasi kreativitas dalam mengolah kuliner khas Cirebon tanpa meninggalkan identitas rasa tradisionalnya.

Selain lomba, pengunjung juga disuguhkan demo memasak bubur cecek serta pengenalan wedang asam kawak, minuman tradisional yang menjadi bagian dari kekayaan kuliner Cirebon.
Digas Vol 2 turut menghadirkan edukasi keamanan pangan, termasuk penerapan standar Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP), higienitas, dan sanitasi. Edukasi tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kesadaran praktisi kuliner terhadap keamanan makanan yang disajikan kepada masyarakat.
Kegiatan ini juga memberikan ruang bagi penyandang disabilitas melalui penampilan SLBN Budi Utama, PSBD Kelabang, MYM Dancer Studio, Sanggar Galih Pawentar, dan Intan Dewi Dancer.
Chef Rieza berharap, Diskusi Gastronomi dapat menjadi agenda rutin Sekoci sekaligus wadah kolaborasi para praktisi kuliner dari wilayah Cirebon, Majalengka, Indramayu, dan Kuningan dalam mengenalkan potensi daerah masing-masing.
Sementara itu, Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata (DISBUDPAR) Kota Cirebon, Agus Sukmanjaya, menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, pengembangan gastronomi sejalan dengan upaya menjadikan Kota Cirebon sebagai kota kreatif berbasis gastronomi.
Ia menegaskan, gastronomi tidak hanya berbicara tentang makanan dan minuman, tetapi juga mencakup sejarah, proses penyebaran, serta nilai budaya yang melekat di dalamnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan kuliner tradisional Cirebon tidak sekadar dikenal sebagai sajian khas, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya dan daya tarik wisata yang terus dijaga serta dikembangkan
(Hans)








