“KAI Daop 3 Cirebon Revitalisasi Taman Kota: Sinergi Pelestarian Lingkungan dan Kearifan Lokal”

oleh -31 views

Jabartandang.Com,” Cirebon., – Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi (Daop) 3 Cirebon menunjukkan komitmennya terhadap pembangunan berkelanjutan di daerah dengan merevitalisasi Taman Kota Cirebon yang berlokasi di Jalan Siliwangi, tepat di depan Kantor Gubernur Bale Jaya Dewata.

 

Revitalisasi taman ini tidak hanya difokuskan pada aspek fungsional dan estetika ruang publik, tetapi juga dirancang untuk mengangkat nilai-nilai budaya serta filosofi khas Cirebon sebagai daya tarik wisata sekaligus simbol identitas kota.

 

Manager Humas KAI Daop 3 Cirebon, Muhibbuddin, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bentuk sinergi antara KAI dan Pemerintah Kota Cirebon dalam mendukung pelestarian lingkungan serta penguatan karakter kota melalui ruang hijau.

 

“Bukan sekadar ruang terbuka yang hijau, taman ini kami harapkan menjadi simbol identitas dan kebanggaan warga Cirebon,” ujar Muhib.

 

Filosofi di Balik Desain Tugu dan Tata Ruang

 

Tugu ikonik yang menjadi pusat taman mengandung makna filosofis mendalam, menggambarkan semangat dan karakter masyarakat Cirebon:

 

1. Stilasi Udang dan Kapal

Melambangkan Cirebon sebagai Kota Udang dan pusat budaya maritim. Lengkungan tugu menyerupai tubuh udang, sementara garis-garisnya melambangkan kaki udang sebagai simbol ikatan dan kebersamaan masyarakat. Gaya dinamisnya merepresentasikan semangat Cirebon yang terus bergerak maju.

2. Dua Struktur yang Berhadapan

Menggambarkan keseimbangan dan keharmonisan, dua nilai utama dalam kehidupan sosial masyarakat Cirebon.

3. Dasar Lengkung Bermotif Bata

Mewakili fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman, tanpa meninggalkan akar budaya dan sejarah kota.

 

Selain tugu, desain keseluruhan taman juga memuat unsur filosofi dan spiritualitas Cirebon :

 

1. Sumbu Utara – Selatan

Mengacu pada garis imajiner yang menghubungkan Keraton Cirebon dan Astana Gunung Jati, simbol keterpaduan antara unsur pemerintahan dan spiritualitas.

2. Plaza Berbentuk Runcing Seperti Tombak

Melambangkan arah dan tujuan yang jelas, mencerminkan semangat masyarakat Cirebon untuk terus melangkah maju.

 

Ruang Publik yang Inklusif dan Bernilai Budaya

 

Muhib menegaskan bahwa revitalisasi ini bukan semata proyek estetika, melainkan wujud kepedulian sosial yang ingin menghadirkan ruang publik yang nyaman, inklusif, dan bermakna.

 

“KAI tidak hanya hadir untuk menghubungkan kota-kota melalui rel, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Melalui program TJSL ini, kami ingin memberikan kontribusi yang berkelanjutan dan berdampak langsung bagi warga Cirebon,” jelasnya.

Ia menambahkan, taman kota bukan hanya sekadar tempat bersantai, tetapi juga ruang sosial dan budaya yang menyatukan unsur sejarah, spiritualitas, serta dinamika masyarakat Cirebon.

 

“Kami percaya, kehadiran KAI tidak bisa dilepaskan dari komunitas tempat kami berada. Karena itu, setiap program TJSL selalu kami rancang dengan mempertimbangkan aspek sosial, budaya, dan lingkungan. Cirebon, dengan kekayaan sejarahnya, pantas memiliki ruang publik yang merepresentasikan

identitas kotanya,” pungkas Muhib.

 

(Hans)

Tentang Penulis: jabar-tandang

Gambar Gravatar
Media Supremasi Hukum, Politik dan Kriminal