“Menjaga Hutan, Menjaga Harapan: Kiprah Kelompok Tani Hutan Babakan Jawa”

oleh -37 views

Majalengka, Jabartandang.com., – Hamparan hijau di kawasan Kelurahan Babakan Jawa, Kecamatan Majalengka, Kota Majalengka, menjadi gambaran nyata upaya pelestarian lingkungan yang dipadukan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Di kawasan tersebut, Omo Sarma selaku Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Rimba Raya Lestari Pemegang SK Hutan Kemasyarakatan (HKm) resmi dari Kematian Perhutanan terus menggerakkan pengelolaan lahan berbasis konservasi dan produktivitas pertanian.
Lahan yang dikelola masyarakat itu diketahui merupakan kawasan hutan lindung yang dimanfaatkan secara bijak melalui pola pertanian ramah lingkungan.

Kawasan yang dikelola bahkan mencapai 383 hektare dan masuk dalam skema Kawasan Hutan Dengan Pengelolaan Khusus (KHDPK), yang memberikan ruang bagi masyarakat sekitar untuk turut menjaga sekaligus memanfaatkan kawasan hutan secara berkelanjutan.

Menurut H. Omo Sarma, saat ditemui di kawasan pertanian Minggu siang (10/05/2026), pengelolaan kawasan tersebut juga melibatkan masyarakat dalam jumlah besar. Saat ini, anggota yang telah tercatat dalam Surat Keputusan (SK) sebanyak 295 anggota, sementara masih terdapat sekitar 618 Kepala Keluarga (KK) lainnya yang belum masuk dalam pendataan resmi.

“Ini bukan hanya soal bertani, tapi bagaimana masyarakat bisa ikut menjaga kawasan hutan tetap lestari sambil meningkatkan kesejahteraan warga sekitar,” ujarnya.

Di area tersebut, berbagai jenis pohon mangga ditanam, dengan dominasi mangga gedong gincu yang menjadi salah satu komoditas unggulan khas Majalengka dan Jawa Barat.

Menurut H. Omo Sarma, pemilihan tanaman mangga bukan tanpa alasan. Selain memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi, pohon mangga juga dinilai cocok untuk menjaga struktur tanah dan mendukung penghijauan kawasan hutan lindung.

“Pohon mangga akarnya kuat, mampu menjaga kondisi tanah tetap stabil, sekaligus punya nilai manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Apalagi gedong gincu memang sudah dikenal sebagai salah satu identitas buah unggulan daerah,” tambahnya.
Selain tanaman mangga, para petani juga memanfaatkan lahan kosong di sela-sela pepohonan dengan menanam jagung sebagai sistem tumpang sari. Pola tersebut dilakukan agar lahan tetap produktif sambil menunggu masa panen buah mangga.
Tanaman jagung dinilai mampu membantu meningkatkan pendapatan petani dalam jangka pendek, sekaligus menjaga area lahan agar tetap terawat dan tidak terbengkalai.
Sistem tumpang sari juga menjadi salah satu bentuk optimalisasi lahan tanpa merusak fungsi kawasan hutan lindung.

Aktivitas pertanian yang dilakukan Kelompok Tani Hutan Babakan Jawa melibatkan masyarakat sekitar dengan semangat gotong royong. Mulai dari penanaman, perawatan, hingga pengawasan kawasan dilakukan bersama demi menjaga keberlangsungan lingkungan dan kesejahteraan petani.

Keberadaan kebun mangga dan tanaman tumpang sari tersebut kini tidak hanya menjadi sumber penghasilan warga, tetapi juga menciptakan suasana hijau dan asri di wilayah pinggiran Kota Majalengka.

Warga berharap upaya yang dilakukan H. Omo Sarma bersama Kelompok Tani Hutan dapat terus berkembang dan menjadi contoh pengelolaan kawasan hutan lindung yang produktif, lestari, dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

(Hans)

Tentang Penulis: jabar-tandang

Gambar Gravatar
Media Supremasi Hukum, Politik dan Kriminal